Makna Dibalik Monumen 7 Sepeda Di Alun-alun Kota Cimahi

Pernah jalan-jalan ke alun-alun Kota Cimahi? Atau pernah lihat Monumen yang ada 7 speda mau naik ke langit? Tahukah anda, bahwa ada filosofi di balik Monumen 7 speda tersebut? Daripada tambah penasaran, ayo kita ulas filosofi di balik monumen 7 speda tersebut.
Ternyata patung ini dibuat atas prakarsa kolektif yang terdiri Rosyid Akhmadi, Itok Tohija (Mantan Walikota Cimahi), dan Wilman Hermana sebagai konseptor dibantu oleh Ahmad Fadilah dalam urusan rendering dan mock up. Selidik punya selidik ternyata Itok Tohija merupakan alumnus ITB jurusan Teknik Sipil.
Patung ini terletak di alun-alun, jantung kota Cimahi dengan maksud supaya monumen ini dapat dilihat oleh seluruh warga pada lokasi yang strategis-pusat Kota Cimahi. Selain itu, penempatan karya yang ditempatkan tepat di depan kantor DPRD Cimahi, tentu memberikan sebuah nilai positif bagi anggota DPRD untuk mengabdikan demi kemajuan Kota Cimahi yang saat ini masih “Ngereyeuh” membuat sebuah kota yang sejahtera.
Sepeda sebagai modal transportasi melambangkan sebuah interaksi yang berlandaskan kejujuran karena pada sepeda dibutuhkan interaksi langsung antara alat (sepeda) dan penggunanya tanpa bantuan bahan bakar. sepeda juga melambangkan sebagai semangat kerakyatan dan romantisme pemerintah Kota Cimahi  akan sepeda sebagai moda utama transportasi  seperti jaman dulu kala ketika sepeda banyak mengisi jalanan kota yang asri berbeda dengan kondisi sekarang yang cenderung penuh sesak oleh kemacetan.
Sedangkan jumlah tujuh sepeda pada monumen tersebut melambangkan tujuh tahun industri kreatif Kota Cimahi, untuk tumbuh dan berkembang menjadi motor penggerak roda ekonomi kota menuju kemandirian yang menjadi harapan untuk mengangkat harkat martabat dan derajat warga Cimahi secara keseluruhan. Perlambangan  ini tentu sesuai dengan slogan kota Cimahi yaitu  “Salayu Ngawangun Jati Mandiri” 
Sebuah instalasi patung tujuh sepeda dengan lintasan melengkung seolah-olah akan terbang dari tanah menuju ke langit. Penggambaran ini bisa kita artikan sebagai sebuah makna kiasan dari filosofi tumbuh berkembang beriringan bersama mengejar cita sampai ke langit. atau  “ngareyeuh ngegoes” sampai langit (kalo kuat membosehnya). Kuncinya disini adalah mengkayuh  alias berusaha bersama seluruh elemen masyarakat jangan berhenti usaha karena akan selalu ada jalan untuk menggapai cita-cita. Selain itu, tujuh buah sepeda, 7 jenis sepeda  dan tujuh ragam warna yang terlihat pada instalasi  menggambarkan kemajemukan keragaman  dan dinamika warga Cimahi yang meski berbeda latar belakang tetap satu  bersama-sama memboseh sepedah  menuju langit kesuksesan.
Selain itu, mengenai sudut arah sepeda itu menuju ternyata tepat menghadap ke gedung BITC (Baros Information Technology Creative) yang baru-baru ini diresmikan. Mungkin gedung ini nantinya bakal jadi sentra utama kegiatan pembangunan Cimahi kedepannya.
Semua bagian dari instalasi patung  ini mempunya perlambangan yang jelas dengan design yang serba eclectic minimal sekaligus modern. Semua perlambangan ini seolah merangkum cita-cita yang ingin digapai oleh seluruh warga Cimahi yang  terpampang jelas berdiri tegak di alun-alun kota untuk dilihat semua warga. Nampaknya inilah semangat yang coba dipancarkan dari pembangunan patung itu.
Inilah yang akhirnya membuat saya tergerak dan memutuskan untuk menuliskan review. Acuan saya untuk memutuskan menuliskan review ini adalah sepanjang pesan yang terkandung ini positif tentunya menjadi tanggung jawab moril sebagai intelktual untuk mensosialisasikan pemaknaannya ke khalayak luas dengan kurasi yang sebaik-baiknya. Kita bisa mengambil pelajaran walau hanya dari sebuah monumen sepeda.