Cara Tepat Menghapus Kemiskinan Yaitu Dengan Zakat

Kemiskinan di dunia dari tahun ke tahun semakin meningkat PBB menyebutkan bahwa kemiskinan global pada tahun ini meningkat menjadi 6% dari tahun sebelumnya, Indonesia memberikan data sekitar 34 juta jiwa hidup dalam kemiskinan pada tahun ini. Dari data-data tersebut muncullah beberapa pertanyaan, apa penyebab dan bagaimana jalan keluar dari permasalahan tersebut.
Ada sedikit perbedaan antara faktor kemiskinan dunia dan kemiskinan yang dialami oleh Indonesia, jika dunia terutama PBB menyebutkan faktor kemiskinan adalah adanya resesi ekonomi, maka lain halnya dengan Negara kita, Indonesia lebih melihat faktor kemiskinan dari segi intern, dapat kita ambil contoh: otonomi daerah yang beberapa tahun lalu disahkan oleh pemerintah adalah salah satu faktor dari kemiskinan Negara ini, ditambah dengan lemahnya sumber daya manusia (SDM) yang ada pada Negara ini, itu juga bisa dijadikan salah satu faktor kemiskinan dalam Negeri.

Zakat hadir sebagai solusi
Negara kita tidak asing lagi apabila mendengar kata pajak, namun anehnya kebanyakan masyarakat tidak faham tentang pajak tersebut, dari mana asal uangnya, untuk kepentingan apa, dan bagaimana menyalurkan pajak tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat beranggapan bahwa untuk apa mereka membayar pajak yang tak tentu jalur arah pendistribusian uangnya.
Islam menjawab kemiskinan dengan begitu mudah dan jelas, islam mencoba menawarkan sebuah sistem pengolahan keuangan Negara dengan namanya yang disebut Zakat, artian zakat menurut islam sendiri ialah membersihkan harta kita yang kotor supaya menjadi bersih sekaligus ladang amal bagi yang berzakat. Kedudukan zakat sama halnya dengan kedudukan pajak, namun kebanyakan orang menilai bahwa pajak hanya untuk orang islam semata, itu benar, namun dalam kenyataannya siapapun bisa memberikan zakat tanpa terkecuali.
Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah memfatwakan zakat penghasilan, sebagai mana dikutip dalam Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 3 Tahun 2003 Tentang Zakat Penghasilan:

Pertama : Ketentuan umum untuk zakat
Dalam Fatwa ini, yang dimaksud dengan “penghasilan” adalah setiap pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik rutin seperti pejabat negara, pegawai atau karyawan, maupun tidak rutin seperti dokter, pengacara,konsultan, dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya.

Kedua : Hukum mengeluarkan zakat
Semua bentuk penghasilan halal wajib di keluarkan zakatnya dengan syarat telah mencapai nishab dalam satu tahun, yakni senilai emas 85 gram.

Ketiga : Waktu untuk mengeluarkan zakat.
Zakat penghasilan dapat dikeluarkan pada saat menerima jika sudah cukup nishab.
Jika tidak mencapai nishab, maka semua penghasilan dikumpulkan selama setu tahun; kemudian zakat dikeluarkan jika penghasilan bersihnya sudah cukup nishab.

Keempat: Kadar (ukuran) untuk mengeluarkan zakat
Untuk kadar atau ukuran zakat penghasilan yang telah ditetapkan adalah sebesar 2,5% dari penghasilan yang telah kita dapat
Dengan demikian, pemerintah dalam hal diminta untuk berperan aktif mensosialisasikan fatwa MUI ini supaya dapat di jalankan sebagaimana harapan karena kita ketahui banyak dari sekian juta jiwa orang di Indonesia mempunyai profesi. Maka, jika saja mereka yang berprofesi sadar akan zakat tersebut, maka kesejahteraan yang diimpi-impikan jauh oleh bangsa ini akan terrealisasikan. Selain inti utama dari zakat ialah untuk mensejahterakan rakyat, zakat juga sebagai salah satu media untuk menciptakan kondisi sosial yang menjadi pilar bagi bangsa ini yaitu ‘Bhineka Tunggal Ika’.